JAVANEWS.ONLINE — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong Aceh memanfaatkan posisi strategisnya di ujung Selat Malaka untuk membangun kapasitas teknologi dan menciptakan nilai ekonomi dari perkembangan ekosistem digital.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyatakan Selat Malaka bukan hanya jalur perdagangan dunia, tetapi juga menjadi bagian penting jalur infrastruktur digital global. Kabel komunikasi bawah laut yang menghubungkan berbagai negara melintas di kawasan tersebut.
Menurut Komdigi, posisi geografis tidak otomatis menghasilkan manfaat ekonomi. Daerah perlu membangun kemampuan teknologi, sumber daya manusia, inovasi, dan ekosistem usaha agar dapat mengambil manfaat dari arus konektivitas internasional.
Komdigi juga menyoroti peluang pengembangan infrastruktur digital di sekitar jalur strategis tersebut. Saat ini titik gateway utama masih banyak terkonsentrasi di Singapura, sehingga Indonesia perlu melihat peluang penguatan infrastruktur dan ekosistem digital di wilayah sendiri.
Aceh dinilai memiliki modal berupa perguruan tinggi, komunitas teknologi, talenta muda, dan posisi geografis strategis. Melalui pengembangan talenta dan kewirausahaan berbasis teknologi, potensi tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi produk, layanan, dan kegiatan ekonomi bernilai tambah.
Program Garuda Spark Innovation Hub di Banda Aceh juga disebut sebagai salah satu sarana untuk mempertemukan talenta lokal dengan pembinaan, jejaring bisnis, pengembangan produk, dan akses kepada investor.
Sumber: Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Siaran Pers No. 182/HM-KKD/9/2026, 7 September 2026.
Foto ilustrasi: dokumentasi visual teknologi pada arsip JavaNews.








