JAVANEWS.ONLINE — Edukasi gizi di sekolah tidak cukup berhenti pada teori. Melalui kegiatan kebun sekolah, peserta didik dapat mengenali bahan pangan, memahami proses pertumbuhan tanaman, dan membangun kebiasaan memilih makanan sehat melalui pengalaman langsung.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengangkat praktik Nutrition Goes to School (NGTS) sebagai pendekatan yang menghubungkan pengetahuan gizi dengan kegiatan nyata. Kebun sekolah menjadi ruang belajar kontekstual agar pemahaman tentang makanan bergizi lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pengetahuan menjadi kebiasaan
Melalui kebun sekolah, peserta didik tidak hanya mengetahui nama dan manfaat sayuran. Mereka juga belajar menyiapkan media tanam, merawat tanaman, mengamati pertumbuhan, hingga mengenali hasil panen. Proses tersebut membantu membangun hubungan yang lebih dekat antara pelajaran, lingkungan, dan makanan yang dikonsumsi.
Pendekatan berbasis praktik dapat membuat pesan gizi lebih konkret. Anak memahami bahwa bahan pangan sehat memerlukan proses, perawatan, air, tanah, dan waktu. Pengalaman ini juga dapat menumbuhkan penghargaan terhadap petani serta mengurangi anggapan bahwa makanan hanya berasal dari rak pasar atau kemasan.
Belajar lintas mata pelajaran
Kebun sekolah dapat menjadi media pembelajaran lintas bidang. Dalam sains, peserta didik mengamati kebutuhan tanaman dan perubahan lingkungan. Dalam matematika, mereka dapat mengukur lahan, menghitung jumlah bibit, atau mencatat pertumbuhan. Dalam pendidikan karakter, kegiatan berkebun melatih tanggung jawab, kerja sama, dan konsistensi.
Nilai penting program ini terletak pada pembiasaan. Pengetahuan gizi akan lebih bermakna apabila didukung lingkungan sekolah yang konsisten, keterlibatan guru, dan komunikasi dengan orang tua. Kebiasaan sehat yang dipraktikkan di sekolah diharapkan dapat berlanjut di rumah.
Peran sekolah dan keluarga
Sekolah dapat menyesuaikan kebun dengan ruang yang tersedia. Lahan terbatas dapat dimanfaatkan dengan pot, wadah tanam, atau kebun vertikal. Jenis tanaman pun dapat dipilih berdasarkan kondisi setempat, ketersediaan air, dan kemudahan perawatan.
Keluarga juga memiliki peran penting. Orang tua dapat mengajak anak membahas hasil kegiatan berkebun, mencoba menu sederhana dari bahan pangan lokal, dan memberi contoh pola makan seimbang. Dengan dukungan bersama, edukasi gizi tidak berhenti sebagai tugas sekolah, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Program kebun sekolah menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan dapat dimulai dari aktivitas sederhana yang dilakukan secara teratur. Ketika peserta didik menanam, merawat, dan mengenali bahan pangan sendiri, pesan mengenai gizi sehat menjadi lebih dekat dan mudah dipahami.
Ilustrasi visual dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Sumber: Kemendikdasmen — Belajar Gizi dari Kebun Sekolah, Cara NGTS Ubah Pengetahuan menjadi Kebiasaan.






