Kemarau Mendominasi Indonesia, BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan dan Kebakaran Lahan

BMKG memprakirakan kondisi kering masih mendominasi banyak wilayah hingga awal September 2026, meski hujan lokal tetap dapat terjadi.

Ilustrasi tanah kering dan retak saat musim kemarau
Ilustrasi tanah kering saat musim kemarau. Foto: Hydrosami/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

JAVANEWS ONLINE — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau.

Dalam prakiraan cuaca Indonesia sepekan periode 18–24 Agustus 2026, BMKG menyatakan kondisi relatif kering masih mendominasi sebagian besar wilayah. Sebanyak 535 zona musim atau sekitar 76,5 persen wilayah telah memasuki musim kemarau pada dasarian pertama Agustus.

Curah hujan kategori rendah tercatat mendominasi 90,79 persen wilayah Indonesia. Sementara itu, 87,28 persen wilayah berada pada kategori hujan di bawah normal.

Kondisi kering dipengaruhi dinamika iklim

BMKG menjelaskan bahwa kondisi kering berkaitan dengan pengaruh El Niño yang kuat serta dinamika atmosfer regional dan lokal. Buletin iklim Agustus 2026 mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator atau Nino 3.4 sebesar positif 2,22.

Untuk periode September hingga November 2026, curah hujan di Indonesia secara umum diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah. Sifat hujan diperkirakan berada pada kategori bawah normal hingga normal di banyak wilayah.

Meski demikian, musim kemarau tidak berarti seluruh wilayah akan selalu tanpa hujan. Aktivitas atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation, gelombang Kelvin, konvergensi angin, serta faktor topografi masih dapat memicu pembentukan awan hujan secara lokal.

Hujan lokal tetap perlu diwaspadai

BMKG mencatat hujan sedang hingga lebat masih terjadi di sejumlah daerah pada 14–16 Agustus 2026. Curah hujan mencapai 93 milimeter per hari di Sumatra Utara, 87 milimeter per hari di Sumatra Barat, 49 milimeter per hari di Papua, dan 22 milimeter per hari di Maluku.

Pada saat hujan lokal terjadi, masyarakat tetap perlu mewaspadai petir, angin kencang, pohon tumbang, baliho roboh, dan genangan. Masyarakat disarankan tidak berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh ketika cuaca memburuk.

Risiko kekeringan dan kebakaran meningkat

Kondisi udara yang lebih kering dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terpantau terutama di Kalimantan dan Papua, sejalan dengan kondisi cuaca yang relatif kering.

BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar. Aktivitas tersebut berisiko memicu kebakaran yang meluas, terutama di lahan gambut, semak belukar, kawasan perkebunan, dan hutan.

Jika menemukan asap atau titik api, masyarakat sebaiknya segera menghubungi pemerintah daerah, pemadam kebakaran, aparat desa, atau instansi penanggulangan bencana setempat. Pelaporan dini dapat membantu mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.

Langkah sederhana menghadapi musim kemarau

Masyarakat dapat mengurangi dampak kondisi kering dengan menghemat penggunaan air dan memeriksa ketersediaan air bersih di rumah. Penampungan air perlu dijaga tetap tertutup dan bersih untuk mencegah pencemaran serta berkembangnya nyamuk.

Bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan, BMKG mengimbau penggunaan pelindung dari sinar matahari dan menjaga kecukupan cairan tubuh. Kelompok lanjut usia, anak-anak, dan pekerja lapangan membutuhkan perhatian lebih agar tidak mengalami dehidrasi atau kelelahan akibat panas.

Petani dan pelaku usaha berbasis pertanian dapat memantau pembaruan informasi iklim untuk menyesuaikan pola tanam, jadwal irigasi, dan kebutuhan air. Keputusan operasional sebaiknya mengacu pada prakiraan terbaru karena kondisi setiap wilayah dapat berbeda.

Pantau informasi resmi

Prakiraan jangka menengah dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer. Karena itu, masyarakat perlu memantau pembaruan melalui laman resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan kanal resmi pemerintah daerah.

Artikel disusun berdasarkan prakiraan cuaca mingguan dan Buletin Informasi Iklim Agustus 2026 dari BMKG. Foto ilustrasi: Hydrosami/Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Sumber: BMKG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *