JAVANEWS — Kementerian Kehutanan memperkuat operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan setelah jumlah titik panas berkepercayaan tinggi meningkat di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan Tengah. Langkah tersebut mencakup patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat, dukungan udara, serta perlindungan masyarakat dan satwa liar terdampak.
Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla atau SiPongi hingga Kamis, 22 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 1.350 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Jumlah itu bertambah 542 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 808 hotspot.
Di enam provinsi prioritas penanganan karhutla, jumlah hotspot naik dari 446 menjadi 1.078 titik. Kalimantan Tengah mencatat kenaikan paling besar, dari 198 menjadi 874 titik. Kalimantan Selatan tercatat 99 titik, Sumatera Selatan 59 titik, Kalimantan Barat 39 titik, Jambi tujuh titik, sedangkan Riau tidak mencatat hotspot berkepercayaan tinggi.
Kementerian Kehutanan menekankan bahwa hotspot merupakan indikator awal anomali suhu permukaan yang terpantau satelit, bukan angka pasti kejadian kebakaran atau luas lahan yang terbakar. Satu kebakaran dapat terbaca sebagai beberapa titik panas sehingga setiap indikasi harus diperiksa langsung di lapangan.
Patroli dan pemadaman diperkuat
Pemerintah merespons peningkatan tersebut dengan memperkuat patroli dan pemeriksaan lapangan, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, penyisiran bara, serta pendinginan lokasi yang masih menunjukkan api atau bara. Pada lahan gambut, pembasahan tetap dilakukan meski api di permukaan tidak lagi terlihat karena bara dapat bertahan dan menjalar di bawah tanah.
Dukungan udara juga tetap disiagakan. Sebanyak 49 armada udara mendukung operasi, terdiri atas 32 unit untuk pengeboman air dan 17 unit untuk patroli udara serta Operasi Modifikasi Cuaca. Pelaksanaannya menyesuaikan kondisi atmosfer, jarak pandang, ketersediaan air, prioritas lokasi, dan keselamatan penerbangan.
Perkembangan ini melanjutkan perhatian pemerintah terhadap penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatera. Penguatan operasi dinilai penting karena perubahan cuaca dapat kembali memicu penyalaan, khususnya di kawasan gambut.
Perlindungan orangutan dan kualitas udara
Penanganan karhutla turut mencakup penyelamatan satwa dan perlindungan habitat. Data Kementerian Kehutanan menyebut 51 orangutan telah diselamatkan dari kawasan terdampak di Ketapang dan Kayong Utara sejak 6 Agustus hingga pertengahan Oktober 2026. Sebagian ditemukan dalam kondisi lemah, dehidrasi, mengalami gangguan pernapasan, atau terluka.
Masyarakat diminta tidak mengevakuasi sendiri satwa liar yang terluka, terjebak, atau masuk permukiman. Warga dianjurkan menjaga jarak dan melapor kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau petugas kehutanan terdekat agar penanganan dilakukan secara aman.
Kementerian juga mengingatkan warga di lokasi dengan kualitas udara memburuk untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengenakan masker bila harus beraktivitas. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan memerlukan perhatian lebih.
Tanggal peristiwa: Pemantauan hingga 22 Oktober 2026 dan keterangan resmi disampaikan pada 23 Oktober 2026.
Sumber: Kementerian Kehutanan, 23 Oktober 2026.
Ilustrasi visual dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).












