JAVANEWS.ONLINE — Peneliti CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai hilirisasi nikel mulai meningkatkan nilai tambah dan mengubah struktur ekonomi. Dalam laporan ANTARA pada 4 Oktober 2026, ia menekankan perlunya memperpanjang rantai produksi di dalam negeri.
Laporan itu mencatat ekspor nikel dan barang terkait pada semester I-2026 naik 69,3 persen menjadi 6,54 miliar dolar AS. Penerimaan negara bukan pajak dari nikel mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus.
Yusuf mengingatkan sebagian pengolahan masih menghasilkan produk antara. Pengembangan menuju prekursor, katoda, sel baterai, dan manufaktur akhir dinilai dapat memperluas manfaat ekonomi serta keterlibatan pemasok nasional. Pandangan tersebut merupakan penilaian ekonom terhadap perkembangan industri.
Sumber: ANTARA, 4 Oktober 2026. Disarikan oleh Redaksi JavaNews.












