JAKARTA — Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan pentingnya perlindungan kesehatan mental wartawan yang bekerja di tengah tekanan kecepatan dan derasnya arus informasi. Pesan itu disampaikan di Jakarta pada Senin, 26 Oktober 2026.
Menurut Meutya, wartawan setiap hari menyerap berbagai informasi dan peristiwa sehingga berisiko mengalami kelelahan psikologis. Tantangan tersebut semakin besar ketika peliputan menyangkut konflik atau peristiwa berat.
Perusahaan media perlu menyediakan ruang pemulihan
Meutya mendorong perusahaan media menerapkan mekanisme pendampingan dan evaluasi setelah penugasan yang berisiko memberi tekanan psikologis. Wartawan juga perlu mengenali batas diri serta tidak ragu mengambil jeda ketika merasa kewalahan.
Perlindungan tersebut berkaitan dengan kualitas kerja jurnalistik. Tekanan mengejar kecepatan dan viralitas tidak boleh menggeser kewajiban menyajikan informasi faktual sesuai kode etik.
Skrining dan layanan berjenjang
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah memperluas perhatian pada kesehatan mental melalui skrining. Pada tahun sebelumnya, pemeriksaan menjangkau sekitar 70 juta orang dan sekitar tujuh juta di antaranya tercatat memiliki indikasi gangguan kesehatan mental yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Kementerian Kesehatan menyiapkan pelayanan berjenjang dari puskesmas hingga rumah sakit agar akses tidak hanya bergantung pada rumah sakit jiwa khusus. Deteksi dini juga menjadi bagian dari program Cek Kesehatan Gratis.
Penguatan kesehatan mental dan literasi informasi sama-sama penting dalam ekosistem digital. JavaNews sebelumnya memberitakan edukasi generasi muda mengenai peluang dan risiko pembiayaan digital.
Tanggal peristiwa: 26 Oktober 2026.
Sumber: ANTARA — Menkomdigi ajak wartawan jaga kesehatan mental.












